Awal Mula Terbentuknya Sel Teror di Poso
Dari deretan panjang konflik ada tiga hal pokok yang mewarnai terorisme Sulawesi Tengah yang berpusat di Poso yakni:
- Spirit ideologis yang menggerakkan para teroris adalah bersifat dogmatis religius, sehingga tampak sebagai gerakan fundemental-radikal atau ekstrim kanan.
- Obsesi perjuangan yang diusung adalah amal ma’ruf nahimungkar yaitu slogan islamis untuk menumpas segala bentuk kejahatan, yang oleh versi mereka bahwa kekuasaan (pemerintah) merupakan pihak yang paling bertanggung jawab.
- Terorisme Poso merupakan bagian dari terorisme nasional dan global yang saling terkait melalui jejaring yang kompleks.
Dari puluhan pelaku tindak kejahatan terorisme yang sudah diringkus Polda Sulawesi Selatan sejak tahun 2002, ditemukan sebuah pola. Banyak dari mereka sempat aktif di Poso, Sulawesi Tengah, wilayah berstatus “merah” lantaran menjadi sarang sejumlah jaringan teror seperti yang dipimpin duo Santoso & Daeng Koro.
baca juga: Pentolan ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi
Contohnya Azhar Daeng Salam, “pengantin” alias pembawa bom bunuh diri di serangan McD MaRI 2002. Warga asal Sulteng itu rupanya sempat aktif dalam aksi pemboman di Poso selama awal dekade 2000-an.
Begitu juga para pelaku bom di Palopo 2004. Keempatnya diidentifikasi sebagai anggota Laskar Jihad, kelompok Islam radikal pimpinan Jafar Umar Thalib. Mereka bahkan ikut serta dalam kegiatan milisi yang dibentuk semasa Konflik Ambon tersebut, seperti kamp pelatihan –pengenalan teknik bertempur dan merakit bom– di Kabupaten Poso.
Berinduk ke kelompok teror di Jawa
Salah satu gembong teroris poso yang menjadi DPO paling dicari di asia tenggara adalah Santoso alias Abu Wardah. Dia dan kelompoknya kerap menjadi pemberitaan terkait terorisme. Dia adalah pimpinan organisasi teroris bernama Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
MIT (Mujahidin Indonesia Timur) yang digagas oleh santoso alias abu wardah merupakan kelompok teror yang gencar menyebarkan dan melakukan aksi teror di Poso. Kemunculan MIT bukan tanpa disengaja, organisasi ini jika kita petakan akan muncul benang merah yang menginduk pada JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) yang dipimpim abu bakr ba’asyir.
Santoso alias Abu Wardah juga berperan aktif dalam pembentukan cabang JAT di Poso, Sulawesi Tengah. Jauh sebelumnya, Santoso juga terlibat dalam Kerusuhan Poso yang berlangsung sejak 1998.
baca juga: ISIS : Teror Bom Bunuh Diri di Kuil Sikh Kabul Afghanistan
Santoso yang berhasil merekrut dan membina cukup banyak kader militan beberapa kali memimpin aksi penyerangan terhadap aparat keamanan Indonesia.Pada 2010, Santoso dan para pengikutnya menggelar pelatihan militer di dua tempat di wilayah Poso.
Inilah awal mula terbentuknya MIT. Santoso menjadi pemimpin tertinggi (amir) MIT pada 2012.
Sebagai daerah pasca konflik, Poso menyisakan timbunan senjata dalam jumlah besar, yang saat ini justru dimanfaatkan oleh kelompok Santoso. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kasus penembakan polisi di depan Bank BCA Palu, pada tahun 2011 oleh Santoso dan kelompoknya yang menggunakan senjata sisa konflik.
Kini pemerintah terus berusaha untuk membasmi kelompok teroris poso dengan dilakukannya operasi tinombala, tetapi nyatanya kelompok dan jaringan teroris poso sekarang tidak semuanya bersembunyi di tengah hutan.
Peristiwa penembakan polisi oleh DPO teroris poso yang juga sebagai anggota MIT beberapa waktu lalu menjadi pelajaran sekaligus tamparan karena kelalaian pemerintah memonitor jaringan teror di indonesia
















